Bersyukur atas ketidaksempurnaan


 












Beberapa hari ini saya merasa #random sekali. Haha. Ya, entah apa yang ada di pikiran saya, semuanya penuh berputar-putar mengelilingi kepala ini. Banyak sekali hal yang saya pikirkan sampe kadang bingung sendiri sebenernya mau saya tuh apa sih. Pikiran akan kecemasan mengenai masa depan, ketakutan akan kegagalan, kesedihan akan datangnya perpisahan, takut dikecewakan, dan berbagai pikiran aneh lainnya datang silih berganti tUak mau pergi. Akhirnya, karena merasa terlalu “aneh” dengan kondisi ini, saya memutuskan untuk sharing dengan beberapa orang sahabat yang selama ini membuat saya merasa nyaman untuk “curcol” dgn mereka. Bukan bermaksud mengumbar “kegalauan” hati ataupun cari perhatian, tapi sungguh hanya ingin menyalurkan naluri manusia yang ada dalam diri saya, yakni kebutuhan untuk mencurahkan rasa dan pikir kepada sesama. Sms demi sms saya kirimkan ke beberapa sahabat. Meminta pendapat dan nasihat mereka mengenai kondisi saya saat ini. Sungguh hati ini rasanya sedikit lebih lega karena merasa kebutuhan manusiawi saya untuk berbagi kisah telah terpenuhi. Begitu banyak nasihat dan penguatan dari sahabat2 saya tersebut mengenai kondisi saya ini. Dan saya amat bersyukur memiliki sahabat2 yang amat baik hati. Karena, mereka mengingatkan saya untuk mengembalikan semua yang telah terjadi hanya pada-Nya. Alhamdulillah saya tersadarkan kembali bahwa ternyata kegundahan hati yg saya rasakan belakangan ini diakibatkan oleh satu masalah yang cukup krusial “kurang bersyukur pada Allah” Astaghfirullah.. Ampuni hamba Ya Rabb. 😥 Bersyukur atas semua ketetapan-Nya adalah obat yang paling manjur dalam menyembuhkan penyakit-penyakit hati yang datangnya dari pembawa penyakit (red: syetan). Sungguh jasad & ruh ini sudah teramat jauh melakukan kekufuran terhadap Zat Yang Maha Baik. Saya hanya bisa terus mengingat ini dan menanamnya kuat-kuat dalam diri saya: Cukuplah Allah, penghujung dari segala apa yang telah, sedang, dan akan saya lakukan. Saya hanya mampu berdo’a terbaik, ikhtiar terbaik, berprasangka terbaik atas segala apa yang Ia putuskan untuk saya. Ketika itu semua tak cukup membuatmu puas, maka terimalah, kemudian beryukurlah. Karena Allah lebih mengetahui, sedang kamu tidak. Ketidakpuasan akan apa yang Allah berikan padamu hanya akan membuatmu semakin terpuruk ke dalam lembah kedzoliman terhadap dirimu sendiri. Sungguh, dari ketidaksempurnaan akan apa2 yang kau harapkan Allah berikan, sebenarnya Allah ingin mengajarkanmu untuk selalu bersyukur. Allah ingin mengajarkanmu untuk menjadikan ketidaksempurnaan terhadap apa-apa yang kamu dapat sebagai sarana ibadahmu dengan jalan memperbaiki ketidaksempurnaan tersebut menjadi nampak sempurna di hadapan-Nya. Maka, dengan kesyukuran mu itulah, kau akan merasakan ketenangan hati yang tak bisa kau dapatkan tanpa menanam, memupuk, dan merawat rasa syukur di hatimu. Kamu manusia, aku pun manusia. tak ada lah manusia yang sempurna di muka bumi ini. Dari ketidaksempurnaan dirimu lah, Allah mengajarkan aku untuk bersyukur. Sehingga aku akan terus berusaha melakukan kerja memberi, menumbuhkan, dan merawat. Tak apalah kau tak mengucapkan terima kasih atas usahaku itu, bahkan menyadarinya pun tidak. Tapi sungguh, ini lah persembahan syukurku pada Allah yang memiliki kamu. Cukup Allah, penghujung dari segala niat baik ini. Berharap ketidaksempurnaan diri kita masing-masing, kita jadikan jalan untuk saling melengkapi, menguatkan, dan mengasihi satu sama lain agar suatu saat terwujud jalan menuju kebaikan dari Tuhan Yang Maha Sempurna.  Wallahu a’lam.

x

Komentar